Pages

  • Home
  • MyYoutube
  • MyFacebook
  • MyInstagram
Showing posts with label Ilmuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmuan. Show all posts

Khasiat dan Manfaat Sarang Semut Bagi Kesehatan

Khasiat dan Manfaat Sarang Semut Bagi Kesehatan - Fakta tentang sarang semut : bebas dari kanker tanpa perlu operasi, kemoterapi, dan bioksi hanya dalam waktu hitungan bulan saja. juga terbukti ampuh mengatasi tumor, TBC, diabetes, Hipertensi, Lever, Asam urat, jantung koroner, dan berbagai penyakit berat lainnya. Sarang Semut Dikonsumsi oleh ribuan orang dan terus bertambah sejak diperkenalkan sejak 6 tahun lalu.

Khasiat Sarang Semut Bagi Kesehatan

Keunikan sarang semut terletak pada Interaksi semut yang terletak pada umbi yang terdapat di lorong-lorong di dalamnya. Kestabilan suhu di dalamnya membuat koloni semut betah berlama-lama bersarang di dalam tanaman Sarang Semut ini. Dalam jangka waktu yang lama terjadilah reaksi kimiawi secara alami antara senyawa yang dikeluarkan semut dengan zat yang terkandung dalam sarang semut, perbaduan inilah yang membuat sarang semut dapat mengatasi berbagai macam penyakit, karena setiap hari semakin banyak saja hasil positif yang dilaporkan oleh pengguna sarang semut dalam mengobati berbagai penyakit kanker, tumor, TBC dan sebagainya, maka secara empiris sarang semut tidak dapat disangkal telah terbukti sebagai tanaman obat berkhasiat.
Barikut ini adalah jenis-jenis panyakit yang sudah terbukti dapat diatasi oleh sarang semut berdasarkan pengalaman empiris dari para pengguna :

Baca Selengkapnya:
http://www.sarangsemutonline.com/artikel-sarang-semut-papua/sarang-semut-terbukti-sangat-ampuh-atasi-kanker-tumor-dan-berbagai-penyakit-mematikan/

Bagaimana Cara Belajar Ilmuwan Terkenal Dunia?


Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Suatu negara tentu akan menghadapi banyak masalah jika negara tersebut kurang memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknanya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah. Dalam belajar sains atau IPA, guru dan siswa seharusnya perlu mengenal latar belakang dari ilmuwan dan bagaimana mereka bisa menciptakan konsep ilmu/ suatu rumus.

Dalam realita bahwa umumnya guru dan siswa juga mengenal konsep dan rumus dan proses pembelajaran kerap kali bercorak membahas rumus dan soal-soal saja. Sangat tepat rasanya kalau guru dan siswa juga mengenal proses kreatif para ilmuwan (seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Charles Darwin dan lain-lain) dalam menemukan suatu fenomena lewat membaca buku biografi mereka.




1) Einstein
 cara berbicaranya pada masa kecil tidak begitu menarik. Kemampuan berbahasa atau berbicaranya sangat lambat. Melihat kondisi itu orang tuanya sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter. Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya sebagai anak yang sangat bodoh. Pada masa kecil, Einstein adalah anak yang baik dan ia punya karakter suka menolong, karakter ini membuatnya makin cerdas. 


Kemampuan berbahasanya memang lebih rendah dibandingkan kemampuan numerika atau matematika. Ia tidak pernah gagal dalam mata pelajaran matematika. Sebelum ia berumur lima belas tahun ia telah menguasai kalkulus diferensial dan integral yang dipelajarinya secara mandiri/ otodidak. Saat di sekolah dasar, dia berada di atas kemampuan rata-rata kelas, namun ia memiliki kegemaran untuk memecahkan masalah rumit dalam aritmatika terapan. Orang tuanya ikut mendukung minat Einstein dalam matematika. Ia membelikan buku-buku teks sehingga ia bisa menguasai pelajaran angka-angka selama liburan musim panas. 




2) Thomas Alfa Edison
 ia belajar bagaimana cara menemukan lampu. Sebelum lampu pertamanya menyala ia melakukan 5.000 eksperimen yang selalu berakhir dengan kegagalan. Namun cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah positif dan tahan banting, ini membawanya kepada kreativitas tingkat tinggi. 


3) Isaac Newton, 
 lahir di Woolsthorpe- Lincolnshire,Inggris. Ia adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal dari Inggris. Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur; Ketika Newton berumur tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan neneknya. Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya. 


Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di-kost milik apoteker lokal (William Clarke). Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge (usia 19), Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Namun Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran dan kisah cintanya menjadi semakin tidak menentu/ putus begitu saja. Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya. 


Kepala sekolah King's School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan. Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge (sebagai mahasiswa yang belajar sambil bekerja untuk mengatasi masalah keuangannya). Pada saat itu, kurikulum universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Ia kemudian menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi kalkulus.




4) Charles Darwin 
lahir tanggal 12 Februari 1809 di Shropshire, Inggris. Ia anak ke lima Robert Waring Darwin. Ia belajar sesuai dengan kurikulum berbahasa Yunani Klasik. Ia tidak memperlihatkan prestasi yang banyak secara akademik. Kemudian ia mengambil jurusan kedokteran tetapi tidak banyak memperoleh kemajuan. Untuk itu ia melakukan usaha lain agar bisa maju. Ayahnya menyarankan Darwin untuk menjadi pendeta dan belajar di Christ's College untuk belajar teologi. Tetapi ia juga tidak memperoleh kemajuan, ia malah senang berburu dan permainan menembak.Ternyata Darwin mempunyai minat dalam mengkoleksi tanaman, serangga, dan benda-benda geologi. Ia tertarik dengan bakat berburu sepupunya William Darwin. 


 Darwin mengembangkan minatnya dalam serangga dan spesies langka. Naluri ilmiah Darwin didorong oleh Alan Sedgewick, seorang ahli bumi, dan juga didorong oleh John Stevens Henslow, seorang professor botany. Darwin kemudian menjadi naturalist (pencinta alam) dan ikut melakukan ekspedisi dengan HMS Beagle. Tim ekspedisi HMS Beagle berlayar dan mengunjungi banyak negeri di lautan Pasifik Selatan sebelum kembali ke Inggris melalui Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan, dalam rangka mengelilingi dunia. 


 Darwin juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Thomas Malthus, dengan bukunya “Essay on the Principle of PopulationI”. Buku tersebut mengatakan bahwa populasi seharusnya bertambah sesuai dengan batas persediaan makanan, kalau tidak maka akan terjadi persaingan untuk memperebutkan makanan. Setelah membaca buku ini, Darwin memfokuskan teorinya bahwa “the diversity of species centered on the gaining of food - food being necessary both to survive and to breed”- semua jenis spesies terfokus dalam memenuhi kebutuhan makanan dan makanan berguna untuk kelangsungan hidup dan untuk berkembang biak. Dari paparan di atas terlihat bahwa sukses seorang ilmuwan berskala dunia tidak jatuh dari langit, atau diperoleh saat kelahirannya. Kesuksesan sebagai ilmuwan diperoleh melalui proses kreatif (belajar kreatif) selama hidupnya. 


 Tidak semua orang memiliki kemampuan berganda yang hebat, Einstein misalnya pada masa kecil tidak beruntung dengan kemampuan bahasanya, namun ia mengembangkan kemampuan yang lain. Einstein bisa melejit pada bidang matematika. Bagi kita, mungkin bisa melejit pada bidang olah raga, musik, organisasi atau pada bidang lain. Kesuksesan seorang anak juga akan terbentuk dengan dukungan orang tua seperti yang dialami Einstein, atau dukungan tokoh lain seperti yang dialami oleh Darwin. Tidak mungkin seseorang bisa sukses untuk skala nasional, apalagi untuk skala internasional kalau mereka tidak betah membaca. 


Newton membaca gagasan-gagasan filsuf seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Darwin dipengaruhi oleh pemikiran (buku) Thomas Malthus, nah bagaimana dengan anda ? Orang bisa sukses karena memiliki karakter tidak mudah putus asa, Thomas Alfa Edison, misalnya, sangat tahan banting dan tidak suka mengeluh. Sebelum menemui sebuah lampu pijar yang bisa menyala, ia harus melakukan 5.000 kali eksperimen di bengkel milik ayahnya. 




                       Bagaimana proses belajar kreatif para ilmuwan berskala internasional ? 


 Cukup simple yaitu miliki suatu bakat atau minat dalam bidang ilmu (misal dalam seni, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, dll), kemudian kembangkan minat tersebut dengan belajar keras dan lakukan otodidak. Mintalah dukungan dari orang terdekat, termasuk guru. Miliki karakter yang tahan banting (tidak suka putus asa dan mengeluh), miliki minat dan kesenangan membaca yang mendalam untuk menambah wawasan. Untuk sukses maka diperlukan puluhan, ratusan atau ribuan kali latihan. 

sumber


Wow...'Ilmuwan Telah Ciptakan Air Kering'


Air selalu identik dengan basah. Meski terlihat sangat kontradiktif, ilmuwan berhasil menciptakan 'air kering' atau dry water.

Rupa 'air kering' ini mirip gula bubuk dan diharapkan akan jadi 'percikan besar' secara komersial.

Tiap partikel dari air ini berisi tetesan air yang dikelilingi lapisan pasir silika. Faktanya, 95 persen dari 'dry water' adalah air 'basah'.

Salah satu keunggulan dari produk ini adalah kemampuannya menyerap gas.

Para ilmuwan yakin, dry water bisa digunakan untuk melawan pemanasan global (global warming). Caranya, dengan menyerap dan menyaring gas rumah kaca -- karbon dioksida (CO2).

Tes membuktikan, air kering ini tiga kali lebih baik dalam hal menyerap CO2 dibandingkan air biasa.

Air kering membuktikan bisa berguna menyimpan metana dan memperluas potensi sumber energi gas alam.

Dr Ben Carter dari University of Liverpool mempresentasikan hasil riset dry water dalam The 240th National Meeting of the American Chemical Society di Boston.

"Tidak ada yang seperti ini. Kami berharap bisa melihat dry water membuat gelombang di masa depan," kata dia, seperti dimuat laman Belfast Telegraph.

Aplikasi lainnya didemonstrasikan oleh tim dengan cara menggunakan dry water sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi antara hidrogen dan asam maleat.

Ini menghasilkan asam suksinat, bahan baku utama yang banyak digunakan untuk membuat obat, bahan makanan, dan produk konsumen.

Biasanya hidrogen dan asam maleat harus diaduk secara bersamaan untuk membuat asam suksinat.

Namun, proses ini tak lagi diperlukan jika menggunakan air kering. Ini membuat proses lebih ramah lingkungan dan lebih hemat energi.

"Jika Anda dapat menghapus proses pengadukan, maka kemungkinan Anda membuat penghematan energi yang cukup besar," kata Dr Carter.

Teknologi ini juga dapat diadaptasi untuk menciptakan "emulsi bubuk kering" -- campuran dari dua atau lebih cairan yang tak bisa disatukan -- seperti minyak dan air.

Para peneliti percaya, emulsi kering bisa membuat penyimpanan cairan berbahaya lebih aman dan lebih mudah.

http://www.ikadanewsonline.com/2011/10/wowilmuwan-telah-ciptakan-air-kering.html

Kurang Perhatian Pemerintah, Peneliti RI Diambil Negara Lain !!



Kesejahteraan peneliti di Indonesia dinilai kurang diperhatikan. Pemerintah pun dianggap kurang gandrung pada penelitian. Karena itu, banyak peneliti brilian asal Indonesia yang diambil negara lain.

"Malaysia, Singapura, itu banyak yang hunting peneliti ke sini. Mereka mencari peneliti yang sudah jadi. Kalau di sana ada tawaran materi yang lebih baik, di zaman yang hedonistik ini ya siapa yang tidak tergoda. Akhirnya banyak yang memilih ke negara lain," papar pakar ilmu kebumian dari LIPI, Prof Dr Ir Jan Sopaheluwakan, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (26/10/2011).

Dia menambahkan, sudah sejak lama didengar kabar baik dari para generasi muda yang mengukir prestasi di dunia internasional. Berbagai olimpiade ilmu pengetahuan tingkat dunia diikuti, dan anak-anak Indonesia telah menyabet banyak pernghargaan.

"Mereka itu bibit yang bagus. Dari situ saja sebenarnya bisa kelihatan kalau Indonesia itu gudangnya orang cerdas, ulet dan istikomah. Mereka perlu dibina, karena nantinya menjadi aset bangsa yang luar biasa. Kalau perhatian dalam penelitian dan teknologi kurang, nanti mereka diambil negara lain. Yang rugi siapa?" imbuh peneliti utama LIPI ini.

Dia menuturkan, penelitian merupakan investasi jangka panjang. Beberapa hasil penelitian ada yang baru kelihatan belasan atau puluhan tahun mendatang. Dia mencontohkan, teknologi luar angkasa diterapkan untuk teflon di alat masak. Pun tentang internet yang mulanya digunakan intelijen dan pertahanan AS, lalu bisa digunakan untuk keperluan damai dan publik.

"Penelitian untuk itu berapa puluh tahun lamanya. Kalau cuma dilihat 5 tahun saja ya gombal. Kalau mau yang cepat tanam tauge saja. Penelitian itu tidak instan dan merupakan investasi jangka panjang," imbuh peraih gelar PhD di Universitas Vrije Amsterdam Belanda ini.

Jan membandingkan dengan lembaga peneliti semacam LIPI di negara lain, seperti Singapura, yang menjadi bagian dari kebijakan nasional. Lembaga penelitian negara semacam LIPI di negara lain berada di bawah kepala negara. Mereka dapat melaporkan perkembangan dan rencana penelitiannya kepada kepala negara. Hal ini berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia.

"Di kita sepertinya tidak gandrung pada penelitian," keluh Jan.

"Di Belanda, ada Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni di bawah Kerajaan Belanda. Ilmu pengetahuan dan seni dijadikan dalam satu wadah karena ilmuwan juga dapat dianggap seniman untuk berkreasi. Otak kiri dan kanan harus seimbang. Selama ini kan cuma otak kiri sana, intuisi dan harmoni kurang dapat," imbuh Jan.

Karena kesejahteraan peneliti yang belum cukup memadai, banyak dari mereka yang menggunakan otaknya untuk mengasong berbagai kegiatan lain. Misalnya melakukan penelitian yang tidak sesuai spesialisasi bidangnya, meskipun terdapat dasar pengetahuan yang sama.

"Untuk survival jadi bikin kegiatan di sana sini, pembicara di sana-sini, penelitian di sana-sini. Ini bukan yang tidak sesuai dengan bidang kita, tapi tidak sejalan dengan spesialisasi kita. Pada akhirnya kita memang jadi tahu banyak, tapi jadi tidak bisa di spesialisasi kita saja, dan harus bekerja seperti 48 jam sehari," curhat Jan.

Untuk diketahui, sekarang ini, gaji per bulan yang diterimanya sebagai profesor peneliti LIPI Rp 3,6 juta. Angka ini ditambah dengan tunjangan peneliti Rp 1,4 hingga 1,6 juta sehingga yang didapat Jan sekitar Rp 5,2 juta.

http://www.menjelma.com/2011/10/kurang-perhatian-pemerintah-peneliti-ri.html